Kekerasan bukan lagi peristiwa anomalis di negeri ini. Kekerasan sudah menjadi gambaran setiap harinya. Bangsa ini kian rapuh, hilang kasih sayangnya.
Keluarga, sebagai komponen terkecil di masyarakat, tonggos prinsipnya, sakinah mawadah wa rahmah sekadar kalimat indah. KDRT menimpa sana-sini. Keluarga teladan, kurang dilirik mata. Akhirnya, bunuh diri, bunuh anak, bunuh istri, bunuh suami, bunuh ayah, bunuh ibu, bunuh...
Barangkali keluarga membutuhkan, teladan masyarakat. Namun apa yang dilihat tak begitu melegakan. Bagi wanita, sakit sungguh sakit, ketika lidah-lidah tetangga berkata-kata tanpa kontrol. Kabar burung masing-masing dibicarakan di teras-teras rumah, di pintu pagar, di halaman, di taman, di depan gerobak tukang sayur, dan dimana-mana. Sementara para lelaki gampang terprofokasi. Gara-gara salah paham, perang wilayah terjadi.
Mungkin tokoh agama adalah solusinya. Tapi ah rupanya, di negara ini agama bisa menjadi alasan untuk melakukan kekerasan. Seringkali atas nama agama, kekerasan bahkan perang terjadi. Pemimpin agama pun, menyelesaikan ini bukan sebagai penengah, namun konfrontatif. Muncullah radikalis dan liberalis... yang hanya memunculkan kekerasan kekerasan baru dalam agama.
Lalu, kemana lagi harus mencari kedamaian? Pada pemerintah barangkali. Namun lagi-lagi disana kita dikibulin. Pilkada rusuh dimana-mana, karena sikap pembelaan simpatisan yang berlebihan. Anehnya pemimpin bangsa ini diam. Mereka yang dikata “calon” membiarkan dan mendukung aksi kekerasan ini.
Lagi, di parlemen, olok-olok, kata menjijikkan dan umpatan keluar dengan leluasa dari mulut mereka. Bahkan, adu jotos pun kerap dipertontonkan. Ya Allah.... dimana kedamaian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar